Menikamti Kuliner Khas Sunda Di Sumedang

Menikamti Kuliner Khas Sunda Di Sumedang
Tumis Picung

Tumis Picung

Tahu Sumedang.

Tahu adalah lauk harian dari sebagian orang Indonesia. Selain tahu Kediri dan tahu Bandung, yang terkenal adalah tahu Sumedang. Lauk yang berbahan baku dari kacang kedelai ini bisa dijumpai di Jakarta, Bekasi, Balikpapan, Samarinda dan kota-kota lain di Indonesia.

Sebagai contoh, di Jakarta, tahu Sumedang dijual dalam keadaan mentah maupun matang. Yang matang biasanya dijajakan di perempatan-perempatan traffic light.

Sedangkan tahu Sumedang yang mentah ditawarkan di perumahan-perumahan.
Uniknya, orang menjual tahu di Sumedang, tidak mencantumkan kata “Sumedang” di kiosk tempat mereka berjualan.
Yang tertulis hanya kata “TAHU”, dengan warna umumnya merah.

Penjualan tahu Sumedang diluar kota Sumedang, misalnya di Jakarta, Bogor, atau kota-kota lainnya kebanyakan menggunakan label “Tahu Sumedang”.

Tumis Remis

Salah satu menu atau kuliner khas Sunda adalah Remis, sejenis kerang tetapi yang berkemang di sungai. Dengan demikian bisa saya katakan merupakan kerang darat. Kerang sendiri mempunyai rasa yang enak. Apalagi kalau dimasak oleh orang pandai memasak. Kerang mentahnya masih segar dan dimasak apapun oleh yang piawai memasak akan membuat lidah bergoyang.

Tumis Remis

Tumis Remis

Seumur-umur saya baru menikmati makan tumis remis ketika saya sarapan di rumah makan Sunda Mah Nini, pada waktu berkunjung ke Sumedang pada akhir bulan Nopember 2018.

Tumis Picung.

Menu kuliner khas Sunda lainnya adalah Picung. Siapa tidak mengenal kluwek. Orang yang sering membuat sayur rawon pasti menggunakan bumbu masak ini, yang kalau sudah tua berwarna hitam, sehingga sayur rawon yang konon katanya berasal dari Jawa Timur ini, warna kuahnya akan kehitam-hitaman karena pengaruh dari kluwek.

Mugkin banyak yang tidak tahu, kalau kluwek yang masih muda bisa diolah menjadi sayur atau tumisan. Menurut istri saya yang asli orang Sunda, sayur atau tumisan yang terbuat dari kluwek muda ini namanya, sayur picung.

Berikut saya posting resep Tumis Picung :

Bahan-bahan :

¼ kg picung / kluwek muda
Bumbu-bumbu :
Dua siung bawang putih
Empat siung bawah merah
1 ruas jari jahe
1 ruas jari kencur
3 buah kemiri
1 sdt ketumbar
1 sdm santan bubuk
Cabe secukupnya
Bahan tambahan :
Minyak goreng
400 ml air
Bumbu masak secukupnya
Garam secukupnya
Gula sekucupnya

Cara memasak :

Cuci picung kemudian tiriskan
Haluskan bawang merah, bawang putih, jahe, kencur, kemiri, dan ketumbar. Untuk cabe, iris tipis-tipis dan sisihkan.
Panaskan wajan yang sudah diberi minyak sayur untuk menumis
Masukkan bumbu yang diulek tadi ke dalam wajan dan aduk-aduk sampai matang.
Kemudian masukkan picung ke dalam wajan berisi bumbu, aduk hingga layu.
Setelah picung agak layu, tambahkan air secukupnya.
Kemudian tuangkan santan bubuk, gula, garam secukupnya.
Tunggu sampe picung lunak.
Jika air menyusut dan picung belum lunak tambah air lagi.
Masak picung sampai lunak dan matang.
Tumis remis dan tumis picung, disediakan oleh rumah makan “Mah Nini”, yang terletak di pinggir Jalan Raya Legok – Paseh Sumedang. Menu lain yang bikin ngiler adalah ; burung puyuh goreng, oncom, tumis congor sapi, semur jenggol, sop buntut, sop kaki, sop iga.
Seperti rumah makan Sunda pada umumnya pelayanannya secara self service. Mengambil nasi dan memilih menu sendiri. Sedang untuk minuman diberi the tawar hangat gratis. Jika pengunjung ini minuman jenis lain, bisa pesan.

Pohon mangga dan petai.

Ternyata, daerah Sumedang tanahnya subur. Hal ini bisa diamati dari apa yang bisa tumbuh di daerah yang terkenal dengan produk tahunya ini. Ketika saya ke Sumedang dari Jakarta lewat Tol Cipali dan keluar pintu Tol Cikedeng, sepanjang perjalanan arah menuju kota Sumedang banyak saya temui pohon-pohon mangga dan petai.

Uniknya, sebagian sawah di Sumedang di tanami beberapa pohon mangga, baik dipinggir maupun tengahnya. Perlu saya sampaikan bahwa pohon mangga yang cocok ditanam di Sumedang dan menghasilkan rasa yang manis legit, adalah mangga dari jenis mangga arumanis, mangga gedong gincu, mangga indramayu.

Mangga-mangga jenis ini banyak dijual dipinggir-pinggir jalan, bersama sawo, alpukat dan buah
Bukan hanya itu, di kiri dan kanan jalan, baik itu jalan nasional, jalan propinsi, jalan kota maupun jalan desa di Sumedang, banyak tumbuh pohon petai. Rata-rata sedang berbuah Dan ketika bulan Nopembr 2018.

Namun ada yang boleh dikatakan aneh. Ketika saya dan keluarga makan siang di sebuah rumah makan Sunda, yang terletak di Jl. Serang – Cimalaka, Sumedang, di tempat ini tidak menyediakan petai. Mengecewakan. Padahal kalau makan menu dengan pelengkap sambal, kurang nikmat rasanya kalau tidak ditemani petai.

Buah Pisang Merdeka.

Ketika semua selesai makan, kami istirahat sebentar. Tiba-tiba mata saya melihat buah pisang, dengan jenis belum pernah saya lihat sebelumnya, digantung di sebelah kanan meja kasir. Kemudian saya beranjak ke kasir, menanyakan, itu pisang jenis apa.

Buah Pisang

Buah Pisang Merdeka

Atik, pelayan restoran menyampaikan bahwa itu adalah pisang merdeka. Konon katanya, pisang merdeka digunakan untuk obat bagi orang yang sakit pinggang. Musim hanya setahun sekali dan pisang tersebut katanya berasal dari Sukabumi.
Saya penasaran. Baru kali ini saya mendengar ada pisang merdeka.
Oleh karena itu itu saya pergi ke internet, untuk browsing atau searching. Tidak saya temukan keterangan tentang pisang merdeka..hehehe..

Buah Cempoleh.

Salah satu buah yang banyak dijual di daerah Sumedang adalah buah Campoleh. Buah ini sejenis sawo ini berasal dari Meksiko dan Kuba. Maka orang Sunda menyebut buah yang berwarna kuning dengan nama sawo walanda.
Seperti kebiasaan sebagian orang Indonesia, yang berbau asing, dinamakan “bule”, “londo”, “walanda”. Mungkin yang dimaksud “londo”, “walanda”, adalah Belanda.
Menurut istri saya yang pernah makan, buah Campoleh baunya wangi dan daging buahnya rasanya manis pulen.

Disuguhi Gula Merah.

Sesampai di rumah saudara istri saya, yang rumahnya di desa Desa Cikondang – Sumedang, kami ditawari mencicipi kuwe yang dihidangkan. Saya perhatikan secara seksama sepertinya adalah gula merah. Agar tidak berlanjut penasaran, saya bertanya.

“Itu gula merah ya Amang?”

“Iya..silahkan..mangga…mangga.” Jawab paman istri saya, dengan bahasa Indonesia dicampur bahasa Sunda.

“Punten Amang…gigi saya sedang dalam perawatan.” balas saya. Dengan bahasa campuran pula..hehehe..tidak mau kalah…saya yang baru belajar bahasa Sunda dari istri saya.

Sepanjang hidup saya, baru kali ini saya disuguhi gula merah saat bertamu. Perlu saya sampaikan bahwa gula merah tersebut dicetak sebesar mainan karambol.

Untuk tidak mengecewakan empunya rumah, istri saya mengambil satu unuk dimakan. Menurut istri saya, keluarganya biasa makan gula ditemani teh panas manis saat sore hari. Lebih nikmat lagi saat makan ada hujan. Gula merah tersebut hanya dikonsumsi sendiri. Tidak disuguhkan ke tamu.

Lain daerah lain kebiasaan. Inilah kekayaan tradisi suku-suku di Indonesia. Patut kita hargai dan lestarikan.
Demikian cerita saya mencicipi atau menikmati sebagian makanan khas Sumedang. Tentu masih banyak makanan lain yang saya belum tahu, apalagi memakannya.
Selamat mencoba.

Bagikan:

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply